Tragedi Pada Kost Pramugari

Malam sudah larut dimana jarum jam menampilkan jam 23. 15. Atmosfer hening menyelimuti suatu kost- kostan yang terletak sebagian km dari Bandara Soekarno- Hatta Cengkareng.. Kost- kostan tersebut lokasinya agak jauh dari keramaian sehingga jadi tempat kesukaan untuk siapa saja yang menginginkan atmosfer tenang serta hening. 

Kost- kostan yang mempunyai jumlah kamar menggapai 30 kamar itu terasa hening sebab memanglah baru saja dibuka buat disewakan, cuma sebagian kamar saja yang telah dihuni, sehingga suasananya disaat siang ataupun malam lumayan lengang. Dikala itu hujan turun cukup deras, hendak namun terlihat suatu sudah terjalin disalah satu kamar dikost- kostan itu. 

Bersamaan dengan turunnya air hujan, air mata Fonny pula mulai turun berlinang dikala lelaki itu mulai memegang badannya yang telah tidak berdaya itu. Dikala ini badannya telah dalam kekuasaan para lelaki itu, rasa keputus asaan serta khawatir tiba menyelimuti dirinya. 

Beberapa saat yang lalu secara tiba - tiba datang dirinya diseregap oleh seorang lelaki.Saat itu ia sedang ingin masuk kamar kostnya. Kedua tangannya langsung diikat kebelakang dengan seutas tali, mulutnya disumpal dengan kain serta sehabis itu badannya dilemparkan oleh lelaki itu keatas tempat tidurnya.

Mau rasanya ia berteriak memohon pertolongan kepada sahabatnya,namun kendaraan antar jemput yang tadi mengantarkannya kayaknya telah jauh berangkat meninggalkan kost- kostan ini, sementara itu didalam kendaraan tersebut banyak sahabatnya sesama karyawan. 

Fonny Dewi Seftiani merupakan seseorang Pramugari pada suatu penerbangan swasta, umurnya baru tiba 19 tahun, mukanya menawan nan imut, bentuk badan badannya besar serta ramping sepadan. Penampilan yang menawan ini sangat mempermudah menurutnya buat diterima bekerja selaku seseorang pramugari. 

Demikian pula dengan karirnya dalam waktu yang pendek karena kecantikannya seperti itu ia sudah bisa jadi primadona di industri penerbangan itu. Banyak lelaki yang berupaya merebut hatinya, baik itu sesama karyawan ditempatnya bekerja ataupun kawan- kawan lainya. 

Tetapi karena alasan masih mau berkarir hingga dengan secara halus ia menolak para lelaki itu. Namun tidak seluruh lelaki mengerti perilaku dari Fonny itu. Suwandi merupakan salah satu dari orang yang tidak dapat menerima perilaku Fonny terhadap dirinya. Saat ini dirinya bersama dengan seseorang temannya sudah melaksanakan seuatu perhitungan terhadap Fonny. 

Rencana busuk dikerjakannya terhadap Fonny. Malam ini mereka sudah menyergap Fonny dikamar kostnya. Suwandi merupakan satu dari sekian banyaknya lelaki yang menyimpan hati kepada dirinya,

Namun Suwandi bukanlah orang yang dikenalnya dengan baik sebab perannya tidaklah seseorang karyawan penerbangan ditempatnya bekerja ataupun kawan- kawannya yang lain, melainkan ia merupakan seseorang tukang batu yang bekerja dibelakang kost- kostan ini. 

Ironisnya, Suwandi yang berumur separuh abad lebih serta melebihi umur bapak Fonny itu lebih kerap menghalalkan seluruh cara dalam memperoleh suatu, maklumlah ia bukan seorang yang terdidik. Seluruh tingkah laku serta perbuatannyapun cenderung agresif, sebab memanglah ia hidup dilingkungan orang- orang yang bersifat agresif.

“ Huh rasakan kau wanita sombong!”, bentaknya kepada Fonny yang tengah tergolek dikasurnya.

“ Saya miliki kau sekarang….!”, lanjutnya. 

Semenjak perjumpaannya awal dengan Fonny sebagian bulan yang kemudian, Suwandi langsung jatuh hati kepada Fonny. Dimata Suwandi, Fonny bagaikan bidadari yang turun dari khayangan sehingga senantiasa muncul didalam lamunnanya. 

Diapun bernazar buat menjadikannya selaku istri yang ke- 4. Bak bukit merindukan bulan, Suwandi tidak berdaya buat mewujudkan impiannya itu. Predikatnya selaku tukang batu, duda dari 3 kali pernikahan, berumur 51 tahun, lusuh serta miskin menghanyutkan impiannya buat bisa mendekati si bidadari itu. 

Terlebih- lebih terdapat sebagian kali peristiwa yang sangat menyakitkan hatinya terpaut dengan Fonny si bidadari bayangannya itu. Kerap tegur sapanya diacuhkan oleh Fonny, tatapan mata Fonny juga senantiasa sinis terhadap dirinya. Lama kelamaan didalam diri Suwandi berkembang produktif rasa benci terhadap Fonny, evaluasi terhadapnya juga berganti, rasa kagumnya sudah berganti jadi benci tetapi gairah nafsu sex terhadap Fonny senantiasa bersemi didalam dirinya berkembang produktif membayang- bayangi dirinya sepanjang ini. 

Akhirnya dipilihlah jalan pintas untuk melampiaskan nafsunya itu, kalaupun cintanya tidak bisa paling tidak ia bisa menikmati badan Fonny pikirnya. Jadilah malam ini Suwandi melaksanakan aksi nekat, diapun membulatkan hatinya buat berikan pelajaran kepada Fonny sekalian melampiaskan nafsunya yang sepanjang ini mulai berkembang secara produktif didalam dirinya. 

Saat ini si bidadari itu sudah tergeletak dihadapannya, air matanya juga sudah membasahi mukanya yang putih bersih itu.

“ Lihat saya, wanita jalang…..!”, hardiknya seraya memegang kepala Fonny serta menghadapkan kewajahnya.

“ Hmmmphh….!!”, jeritnya yang tertahan oleh kain yang menyumpal dimulutnya, mata Fonny juga melotot kala menyadari kalau dikala ini ia sudah berhadapan dengan Suwandi seorang yang dibencinya.

Hatinya juga langsung ciut serta tergetar tatkala Suwandi yang terletak dihadapannya tertawa penuh dengan kemenangan,

“ Hahaha…. malam ini kamu jadi pemuasku, wanita menawan”. Keringat juga langsung mengucur deras membasahi badan Fonny, mukanya terlihat tersirat rasa khawatir yang dalam, ia menyadari betul hendak apa- apa yang bakal terjalin terhadap dirinya. 

Dikala semacam inilah ia menyadari betul hendak ketidak berdayaan dirinya, rasa sesal mulai muncul didalam hatinya, karena sikapnya terhadap Suwandi. 

Saat ini dihadapan Fonny, Suwandi mulai membebaskan pakaian kumalnya satu persatu sampai kesimpulannya telanjang bundar. Meski sudah berumur separuh abad lebih, tetapi sebab pekerjaannya selaku buruh agresif hingga Suwandi mempunyai badan yang atletis, tubuhnya gelap legam serta perkasa, sebagian buah tatto menghiasi dadanya yang bidang itu. 

Isak tangis mulai keluar dari mulut Fonny, dikala Suwandi mulai mendekat ketubuhnya. Tangan kanannya memegang batang kemaluannya yang sudah tegak berdiri itu serta diarahkannya kewajah Fonny. Memandang ini Fonny berupaya memalingkan mukanya, tetapi tangan kiri Suwandi secepatnya mencengkram erat kepala Fonny serta mengalihkannya lagi persis menghadap ke batang kemaluannya.. 

Serta sehabis itu dioles- oleskannya batang kemaluannya itu diwajah Fonny, dengan badan yang bergetar Fonny cuma dapat memejamkan matanya dengan erat sebab merasa ngeri serta jijik diperlakukan semacam itu. 

Sedangkan kepala tidak dapat bergerak- gerak sebab dicengkraman erat oleh tangan Suwandi.

“ Ahhh…. perkenalkan rudal gue ini sayang….. akhhh….” ucapnya sembari terus mengoles- oleskan batang kemaluannya diwajah Fonny, memutar- mutar dibagian pipi, dibagian mata, dahi serta hidungnya. 

Lewat batang kemaluannya itu Suwandi tengah menikmati kehalusan wajah Fonny.

“ Hai menawan!…. saat ini telah tahu kan dengan kontol gue ini, seberapa mahal sih wajah menawan elo itu hah? saat ini kena deh ama gue….”, sambungnya. 

Sehabis puas dengan itu, saat ini Suwandi mendesak badan Fonny sampai kembali terjatuh kekasurnya. Sejenak dikaguminya badan Fonny yang tergolek tidak berdaya ditempat tidurnya itu. Pakaian seragam pramugarinya masih menempel bagus dibadannya. 

Pakaian dalaman putih dengan dasi kupu- kupu bercorak biru ditutup oleh blazer yang bercorak kuning tua dan rok pendeknya yang bercorak biru seakan terus menjadi membangkitkan birahi Suwandi, terlebih roknya agak tersingkap sampai pahanya yang putih lembut itu nampak. Rambutnya yang panjang sebahu masih digelung sedangkan itu topi pramugarinya sudah tergeletak jatuh dikala penyergapan lagi.

“ Hmmpphhh…mmhhh…”, kayaknya Fonny mau mengucapkan suatu kepadanya, tetapi apa perdulinya paling- paling hanya permintaan ampun serta belas kasihan.

Tanpa membuang waktu lagi saat ini diputarnya badan Fonny jadi tengkurap, kedua tangannya yang terikat kebelakang melekat dipunggung sedangkan dada serta mukanya memegang kasur. Kedua tangan agresif Suwandi itu saat ini mengusap - usap bagian pantat Fonny, dialami olehnya pantat Fonny yang sekal. 

Sesekali tangannya menyabet bagian itu bagai seseorang ibu yang tengah menyabet pantat anaknya yang bandel

“ Plak…Plak…”.

“ Wah kencang sekali pantatmu…”, ucap Suwandi sembari terus mengusap- usap serta memijit- mijit pantat Fonny. 

Fonny cuma diam pasrah, sedangkan tangisannya terus terdengar. Tangisnya terdengar terus menjadi keras kala tangan kanan Suwandi secara lambat- laun mengusap kaki Fonny mulai dari betis naik terus kebagian paha serta kesimpulannya menyusup masuk kedalam roknya sampai memegang kebagian selangkangannya. 

Sesampainya dibagian itu, salah satu jari tangan kanan Suwandi, ialah jari tengahnya menyusup masuk kecelana dalamnya serta langsung memegang kemaluannya. Kontan saja hal ini membuat tubuh Fonny agak menggeliat, ia mulai sedikit meronta - ronta, tetapi jari tengah Suwandi tadi langsung menusuk lobang kemaluan Fonny.

“ Egghhmmmmm…….”, Fonny menjerit tubuhnya mengejang tatkala jari telunjuk Suwandi masuk kedalam liang kewanitaannya itu. Tubuh Fonny juga langsung menggeliat- geliat semacam cacing kepanasan, kala Suwandi memainkan jarinya itu didalam lobang kemaluan Fonny. 

Dengan tersenyum terus dikorek - koreknyalah lobang kemaluan Fonny, sedangkan itu tubuh Fonny menggeliat - geliat jadinya, matanya merem- melek, mulutnya menghasilkan rintihan- rintihan yang teredam oleh kain yang menyumpal mulutnya itu

“ Ehhmmmppphhh…. mmpphhhh…..”. Sehabis beberapa menit lamanya, kemaluan Fonny juga jadi basah oleh cairan kewanitaannya, Suwandi setelah itu mencabut jarinya. Badan Fonnypun dibalik sehingga letaknya terlentang. Sehabis itu roknya disingkapkan keatas sampai rok itu melingkar dipinggulnya serta celana dalamnya yang bercorak putih itu ditariknya sampai bagian dasar Fonny saat ini telanjang. 

Nampak oleh Suwandi, kemaluan Fonny yang indah, sedikit bulu - bulu tipis yang berkembang mengitari lobang kemaluannya yang sudah membesar itu. Dengan bernafsunya direntangkan kedua kaki Fonny sampai mengangkang sehabis itu ditekuknya sampai kedua pahanya memegang ke bagian dada. Wajah Fonny terus menjadi tegang, badannya gentar, seragam pramugarinyapun sudah basah oleh keringat yang deras membanjiri badannya, Suwandi bersiap- siap melaksanakan penetrasi ketubuh Fonny.

“ Hmmmmpphhh………. hhhhhmmmmppp…...”, Fonny menjerit dengan badannya yang mengejang kala Suwandi mulai menanamkan batang kemaluannya didalam lobang kemaluan Fonny.

Matanya terbelalak menahan rasa sakit dikemaluannya, badannya menggeliat- geliat sedangkan Suwandi terus berupaya menancapkan segala batang kemaluannya. Memanglah agak susah tidak hanya Fonny masih perawan, usianyapun masih terkategori muda sehingga kemaluannya masih sangat kecil. Kesimpulannya dengan sekuat tenaganya, Suwandi sukses menanamkan segala batang kemaluannya didalam Miss V Fonny. Badan Fonny berguncang- guncang dikala itu sebab ia menangis merasakan sakit serta pedih tidak terkirakan dikemaluannya itu. 

Diapun menyadari kalau malam itu keperawanannya akan hilang di tangan Suwandi.

“ Ahh…. kena kau saat ini!!! Akhirnya Gue sukses memperoleh perawan elo!”, bisiknya ketelinga Fonny. 

Hujanpun terus menjadi deras, suara guntur membahana memiawakkan kuping. Sebab mau mendengar suara rintihan wanita yang sudah ditaklukkannya itu, dibukannya kain yang semenjak tadi menyumpal mulut Fonny.

“ Oouuhhh….. baang…. saakiitt…banngg…. amp uunn…”, rintih Fonny dengan suara yang megap- megap. Jelas Suwandi tidak perduli. Ia malahan langsung menggenjot badannya memopakan batang kemaluannya keluar masuk lobang kemaluan Fonny.

“ Aakkhh…. ooohhhh…. oouuhhhh…. ooohhhggh….”, Fonny merintih- rintih, dikala badannya digenjot oleh Suwandi, tubuhnya juga terus menjadi menggeliat - geliat. Tidak disadarinya malah tubuhnya yang menggeliat - geliat itu malah memancing nafsu Suwandi, karena dengan begitu otot- otot bilik vaginanya malah terus menjadi turut mengurut- urut batang kemaluan Suwandi yang tertanam didalamnya, karenanya Suwandi merasa terus menjadi nikmat. 

Menit- menitpun lalu dengan kilat, masih dengan sekuat tenaga Suwandi terus menggenjot badan Fonny, Fonny juga terlihat terus menjadi kepayahan sebab sekian lamanya Suwandi menggenjot badannya.

Rasa pedih serta sakitnya seakan sudah lenyap, erangan serta rintihan juga saat ini melemah, matanya mulai separuh tertutup serta cuma bagian putihnya saja yang nampak, sedangkan itu bibirnya menganga menghasilkan alunan- alunan rintihan lemah,

“ Ahhh….. ahhhh…oouuhhhh…”. Serta kesimpulannya Suwandi juga berejakulasi di lobang kemaluan Fonny, kemaluannya menyemburkan cairan kental yang luar biasa banyaknya penuhi rahim Fonny.

“ A.. aakkhhh…..”, sembari mengejan Suwandi melolong panjang bak srigala, badannya membeku dengan kepala menengadah keatas. 

Puas telah ia menyetubuhi Fonny, rasa puasnya berlipat - lipat baik itu puas sebab sudah menggapai klimaks dalam seksnya, puas dalam menaklukan Fonny, puas dalam merobek keperawanan Fonny serta puas dalam berikan pelajaran kepada wanita menawan itu. 

Fonny menyambutnya dengan mata yang secara seketika terbelalak, ia sadar kalau pendampingnya sudah berejakulasi sebab disakannya terdapat cairan- cairan hangat yang menyembur membanjiri vaginanya. Cairan kental hangat yang bercampur darah itu penuhi lobang kemaluan Fonny hingga hingga meluber keluar membasahi paha serta sprei kasur. Fonny yang menyadari itu seluruh, mulai menangis tetapi saat ini badannya telah lemah sekali. Dengan mendesah puas Suwandi merebahkan badannya diatas badan Fonny, saat ini kedua badan itu jatuh lunglai bagai tidak bertulang. Badan Suwandi terlihat terguncang- guncang selaku akibat dari isak tangis dari Fonny yang badannya tertindih badan Suwandi. 

Setelah beberapa menit membiarkan batang kemaluannya tertanam dilobang kemaluan Fonny, saat ini Suwandi mencabutnya seraya bangkit dari badan Fonny. Tubuhnya berlutut mengangkangi badan lunglai Fonny yang terlentang, kemaluannya yang terlihat telah merenggang itu kembali sedikit- demi sedikit mengencang dikala merapat kewajah Fonny. Disaat telah betul- betul mengencang, tangan kanan Suwandi sekonyong - konyong mencapai kepala Fonny. 

Fonny yang masih meringis- ringis serta menangis tersedu- sedu itu, kaget dengan aksi Suwandi. Terlebih- lebih memandang batang kemaluan Suwandi yang sudah mengencang itu berkedudukan persis dihadapan mukanya. Belum lagi pernah menjerit, Suwandi telah mencekoki mulutnya dengan batang kemaluannya. Walaupun Fonny berupaya berontak tetapi akhirnya Suwandi sukses menanamkan penisnya itu kemulut Fonny. 

Terlihat Fonny semacam hendak muntah, sebab mulutnya merasakan batang kemaluan Suwandi yang masih basah oleh cairan mani itu. Sehabis itu Suwandi kembali memopakan batang kemaluannya didalam rongga mulut Fonny, wajah Fonny memerah jadinya, matanya melotot, sesekali ia terbatuk- batuk serta hendak muntah. 

Tetapi Suwandi dengan santainya terus memompakan keluar masuk didalam mulut Fonny, sesekali pula dengan gerakan memutar- mutar.

“ Aahhhh….”, sembari memejamkan mata Suwandi merasakan kembali kenikmatan di batang kemaluannya itu mengalir kesekujur badannya. 

Rasa dingin, basah serta geli dirasakannya dibatang kemaluannya. Serta kesimpulannya,

“ Oouuuuhhhh…Fonnnyyy…sayanggg…..”, Suwandi mendesah panjang kala kembali batang kemaluannya berejakulasi yang saat ini dimulut Fonny. 

Dengan terbatuk- batuk Fonny menerimanya, walaupun mani yang dimuntahkan oleh Suwandi jumlahnya tidak banyak tetapi lumayan penuhi rongga mulut Fonny sampai meluber membasahi pipinya. 

Sehabis memuntahkan spermanya Suwandi mencabut batang kemaluannya dari mulut Fonny, serta Fonny juga langsung muntah- muntah serta batuk- batuk ia terlihat berupaya buat memutahkan cairan- cairan itu tetapi sebagian besar mani Suwandi tadi sudah mengalir masuk ketenggorokannya. 

Dikala ini wajah Fonny telah acak- acakan hendak namun kecantikannya masih nampak, sebab memanglah kecantikan dirinya merupakan kecantikan yang natural sehingga dalam keadaan apapun senantiasa menawan terdapatnya. 

Dengan wajah puas sembari menyadarkan badannya didinding kasur, Suwandipun menggerenyotkan bibir memandang Fonny yang masih terbatuk- batuk. Suwandi memutuskan buat istirahat sejenak, mengumpulkan kembali tenaganya. Sedangkan itu badan Fonny meringkuk dikasur sembari terisak- isak. 

Waktupun berlalu, jam didinding kamar Fonny sudah menampilkan jam 1 dini hari. Sembari santai Suwandi juga menyempatkan diri mengorek- ngorek isi laci lemari Fonny yang terletak disamping tempat tidur. Dilihatnya album foto- gambar individu kepunyaan Fonny, terlihat wajah- wajah menawan Fonny menghiasi isi album itu, Fonny yang anggun dalam baju seragam pramugarinya, terlihat menawan pula dengan pakaian muslimnya lengkap dengan hijab kala gambar bersama keluarganya dikala lebaran kemarin dikota asalnya ialah Bandung. 

Saat ini wanita menawan itu tergolek lemah dihadapannya, separuh tubuhnya telanjang, kemaluannya terlihat membesar. Tidak hanya itu, ditemui pula sebagian lembar duit yang berjumlah 2 jutaan lebih dan perhiasan emas didalam laci itu, dengan tersenyum Suwandi memasukkan itu seluruh kedalam kantung celana lusuhnya,“ Sembari menyelam minum air”, batinnya. 

Setelah setengah jam lamanya Suwandi bersitirahat, saat ini ia bangkit mendekati badan Fonny. Diambilnya suatu gunting besar yang ia temukan tadi didalam laci. Serta sehabis itu dengan gunting itu, ia melucuti pakaian seragam pramugari Fonny satu persatu. Singkatnya saat ini badan Fonny sudah telanjang bundar, rambutnya juga yang gelap lurus serta panjang sebahu yang tadi digelung apik saat ini digerai oleh Suwandi sehingga menaikkan keelokan menghiasi punggung Fonny. 

Sejenak Suwandi mengagumi keelokan badan Fonny, kulitnya putih bersih, pinggangnya ramping, payudaranya yang tidak sangat besar, kemaluannya yang walaupun terlihat bengkak tetapi masih nampak indah menghias selangkangan Fonny.

Badan Fonny terlihat penuh dengan kepasrahan, tubuhnya kembali tergetar menantikan hendak apa- apa yang hendak terjalin terhadap dirinya. Sedangkan itu hujan diluar masih turun dengan derasnya, hawa dingin mulai masuk kedalam kamar yang tidak sangat besar itu. Hawa dingin seperti itu yang kembali membangkitkan nafsu birahi Suwandi. Sehabis nyaris sejam lamanya berikan rehat kepada batang kemaluannya saat ini batang kemaluannya kembali mengencang. 

Dihampirinya badan telanjang Fonny,“ Yaa…ampuunnn bangg…udah dong…. Fonny memohon ampunn bangg…oohhh….”, Fonny terlihat memelas memohon- mohon kepada Suwandi. 

Suwandi cuma tersenyum saja mendengar itu seluruh, ia mulai mencapai tubuh Fonny. Saat ini dibaliknya badan telanjang Fonny itu sampai dalam posisi tengkurap. Sehabis itu ditariknya badan itu sampai ditepi tempat tidur, sehingga kedua lutut Fonny memegang lantai sedangkan dadanya masih melekat kasur dipinggiran tempat tidur, Suwandi juga terletak dibelakang Fonny dengan posisi menghadap punggung Fonny. Sehabis itu kembali direntangkannya kedua kaki Fonny selebar bahu, dan….

“ Aaaaaaaaakkkkhh………”, Fonny melolong panjang, tubuhnya mengejang serta terangkat dari tempat tidur dikala Suwandi menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Fonny. 

Rasa sakit tiada tara kembali dialami didaerah selangkangannya, dengan agak sulit payah kembali Suwandi sukses menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Fonny. Sehabis itu badan Fonny juga kembali disodok- sodok, kedua tangan Suwandi mencapai buah dada Fonny dan meremas- remasnya. setengah jam lamnya Suwandi menyodomi Fonny, waktu yang lama untuk Fonny yang terus menjadi tersiksa itu.

“ Eegghhh…. aakkhhh…. oohhh…”, dengan mata merem- melek dan badan tersodok- sodok Fonny merintih- rintih, sedangkan itu kedua payudaranya diremas- remas oleh kedua tangan Suwandi. Suwandi kembali merasakan hendak memperoleh klimaks, dengan gerakan cepat dicabutnya batang kemaluan itu dari lobang anus Fonny serta dibaliklah badan Fonny itu sampai saat ini letaknya terlentang. Sedini kilat pula ia yang saat ini terletak diatas badan Fonny menghujamkan batang kemaluannya kembali didalam Miss V Fonny.

“ Oouuffffhhh……”, Fonny merintih disaat Suwandi menanamkan batang kemaluannya itu. Tidak lama sehabis Suwandi memompakan kemaluannya didalam liang Miss V Fonny

“ CCREETT…. CCRROOOT…CROOTT…”, kembali penis Suwandi memuntahkan mani membasahi rongga Miss V Fonny, serta Fonny juga terjatuh tidak sadarkan diri. Fajar sudah mengejang, Suwandi terlihat meninggalkan kamar kost Fonny dengan tersenyum penuh dengan kemenangan, sebatang rokok menemaninya dalam perjalanannya kesebuah stasiun bis antar kota, sedangkan itu sakunya penuh dengan lembaran duit serta perhiasan emas. Entah apa yang hendak terjalin dengan Fonny si pramugari menawan imut- imut itu, apakah ia masih menjual mahal dirinya. Entahlah, yang jelas sehabis ia sukses menikmati wanita menawan itu, hal itu bukan urusannya lagi.